« Pendaftaran Parents Club | Home | Edukasi Pikiran Bawah Sadar Anak »
Mama Papaku Mantan Preman ?
Oleh ariesandi | January 29, 2007
Oh Mama………oh Papa
Engkaulah idolaku, tempatku berlindung
Di pelukanmu aku merasa aman dan terlindung
Engkau rawat diriku, engkau berikan aku contoh
dengan semua perkataan dan tindakanmu
Walaupun terkadang ada yang aneh,
ku tak berani mempertanyakannya
Di luaran engkau begitu manis pada setiap orang,
walaupun orang itu berbuat salah,
engkau tersenyum memberikan maaf
”Oh … tak apa, saya bisa mengerti” katamu
Di dalam engkau begitu sadis kepadaku,
”Kenapa kau gambari seprei Mama ?”
”Kenapa kau coret mobil Papa, hah ?”
demikian engkau menghardikku, mengagetkanku
Remuk redam hatiku,
mendengarkan suara yang kuharap manis
memberikan pujian atas gambarku
”Ini baru peringatan”, katamu, dan
tangan kuatmu melayang
Apa daya tubuh mungilku, menahan tamparan dan pukulan,
dari orang yang kuharap dengan sepenuh hati
memberi perlindungan dan kasih sayang
Oh Mama…… oh Papa……
kepada siapa lagi kuberlindung
dan kubanggakan diriku
Seandainya aku mengerti semua peraturan orang dewasa
Seandainya aku bisa membaca pikiran orang dewasa
Takkan kuterima rasa sakit di tubuh mungilku
Oh Mama ……oh Papa,
Engkau boleh melarangku menggambar,
Tapi jangan buat hati kecilku berpaling darimu
Jangan buat tanganku cacat menerima pukulanmu
Apakah itu harga yang harus kubayar ?
Atas sebuah label “NAKAL” yang kau berikan padaku
Jika memang begitu, bukankah lebih baik
kau kurung diriku
dalam sebuah sangkar emas
kedap suara
Sehingga aku takkan merepotkanmu
dengan kenakalan dan raungan tangisku
Dan kapanpun kau mau, aku siap jadi sasaran
ambisi dan amarahmu
Yang tak mungkin kau lepaskan, di luar sana
Oh Mama …… oh Papa …….
Walaupun itu terjadi,
Aku tetap sayang padamu
Karena tak ada yang bisa
menggantikanmu
di hati mungilku
Aku tetap akan merindukan
peluk cium dari mu
belaian hangat di punggungku
usapan tanganmu di kepalaku
dan tatapan sayang nan lembut
yang akan menggelorakan hatiku
Berilah aku sekali saja, sekali saja
semua itu
Hanya itulah yang kuharap
dari Mama dan Papaku
Topics: Artikel |


April 11th, 2007 at 11:34 am
Hi, ngeri amat.
May 2nd, 2007 at 10:24 pm
moga2 hati dan fikiran saya dijaga sama yang di atas supaya berfikir 1000 kali dulu untuk bertindak yang menyakitkan hati, jiwa, dan fikiran anak… amin..
September 12th, 2007 at 1:29 pm
Kalau aku melihatnya dari 2 sisi. Memang sebetulnya itu adalah kesalahan orang tua. Karena di jaman yang serba sulit ini membuat orangtua harus berjuang mencari nafkah. Kadang tuntutan pekerjaaan membuat mereka tak kenal waktu. Sehingga mereka harus pulang sampai larut malam. Dan dirumah anak-anak sepulang sekolah tidak ada yang mengawasi, selain pembantu. Mereka sudah terbiasa hidup “semaunya”, tidak ada yang mengawasi kecuali pembantu, yang tidak berani menghadapi mereka. Maka pada saat ortu dirumah, mgkin ortu merasa kaget melihat tingkahlaku mereka yang tidak/kurang baik tsb, sehingga ortu merasa malu, ortu sebenarnya ingin mendidik anak juga menjadi baik… Dan kadang karena merekapun sudah lelah bekerja di kantor, di rumah menghadapi anak yang “dianggap nakal”, maka ortupun menjadi kehilangan kontrol…. mudah emosi, maka kejadian-kejadian yang tak diharapkanlah yang muncul….
September 17th, 2007 at 8:45 pm
Di rumah saya sudah berusaha untuk tidak berkomentar ” anak nakal ” ke anak saya , tetapi lingkungan disekolahnya yang lama, kalo ada anak yang tidak bisa diam dan selalu banyak bertanya ke guru di bilang ” anak nakal “, sehingga saya di panggil oleh guru anak saya yang membuat saya sangat terkejut, guru tersebut bilang bahwa disekolah ini tidak ada fasilitas penunjang seperti yang ditanyakan oleh anak saya, misalnya buku2, karena anak saya kalo bertanya selalu jauh melenceng dari pelajaran sekolahnya, cthnya : bagaimana proses jahe bisa menjadi obat, sehingga guru tsb merasa repot karena dia harus banyak membaca gara2 pertanyaan anak saya, sehingga oleh gurunya dia di cap sebagai anak nakal, karena kalo gurunya tidak menjawab pertanyaan anak saya, dia suka protes dengan cara tidak mengerjakan semua tugasnya di sekolah, tapi kalo di rumah anak saya selalu dengan senang hati mengerjakan PR nya kalo saya minta, jadi perbedaan sifatnya antara di sekolah dan dirumah bagaikan bumi dan langit, akhirnya sekarang saya memindahkan sekolah anak saya ke sekolah yang mau memberi fasilitas berupa jawaban terhadap pertanyaan2 anak dan yang tidak mau mencap murid2nya sebagai anak nakal.
September 18th, 2007 at 9:57 am
merinding ya bacanya..kadang2 ortu memang gak ’sadar’ sdh menghancurkan hati anak2nya dengan kata2 dan sikap yg mungkin dianggap wajar oleh ortu..tapi dianggap menghancurkan hati si anak..! Semoga tdk ada lagi kekerasan pada anak baik itu kata2 atau tindakan..!
September 20th, 2007 at 5:09 pm
I’M CRYING NOW
September 21st, 2007 at 4:04 pm
Artikel ini mengingatkan saya pada peristiwa perlakuan buruk yang dialami seorang anak (umur 4 - 5 th) yang ditayangkan televisi, anak tsb dengan luka2 yang belum mengering di sekujur tubuhnya sudah meminta untuk di gendong lagi oleh sang ibu yang menyakitinya. Sungguh miris rasanya. Membaca artikel ini kita jadi menyadari bhw anak sangat membutuhkan orang tua betapapun keburukan orang tua terhadapnya.
September 23rd, 2007 at 10:27 pm
Hal terpenting yang harus dipelajari adalah bagaimana menjadi orangtua yang bijaksana, mampu memahami keinginan dan kebutuhan anak dan bisa memberinya dengan porsi yang cukup sesuai kebutuhan.
Tidak mudah mengalahkan ego pribadi dengan dalih demi memenuhi kebutuhan anak, yang justru akhirnya malah menghilangkan hak anak untuk mendapatkan waktu bertemu dan bercengkerama dengan orangtuanya dalam suasana penuh kasih dan canda.
Ini adalah media yang luar biasa bagus untuk berbagi pengalaman dalam menghantarkan putra-putri kita menuju kemandirian yang sukses tanpa mengabaikan hak mereka. Terima kasih kepada para penyelenggara
September 24th, 2007 at 3:41 pm
Ah…kadang 2x kita sebagai orang tua terlalu emosi yang dianadalkan bila anak kita tidak menuruti apa yang kita inginkan.
Kalau kita mau malihat ketidak berdayaan anak, pandanglah mereka pada waktu ia tidur, perhatikanlah dengan seksama.Ia akan pasrah dan tidak akan membalas walaupun anda tampar ,pukul, maki 2x .
Ingat2x lah kekerasan apa yang anda lakukan pada siang hari pada anak anda.
Saya yakin anda akan merasa bersalah dengan apa yang anda lakukan pada anak anda .
Kalau anda lakukan ini dengan sungguh 2x, anda pasti akan meneteskan air mata anda.
Sadarlah ia adalah anak anda darah daging anda
September 24th, 2007 at 7:20 pm
kadang 2x didlm hati kecil saya sbg orang tua sering merasa sakit jk telah secara sadar atau tdk sadar telah melakukan pemukulan kpd anak. karena hal tersebut terjadi dikarenakan pengalaman dimasa kecil
bukan dgn maksud utk menyalahkan org tua tp tetap hal tersebut tdk bs kt benarkan .terima kasih atas puisinya semakin menyadarkan saya bahwa hati nurani seorang anak akan membekas sampai mereka dewasa.
October 8th, 2007 at 1:48 pm
saat saya membaca puisi ini dada saya terasa sesak dan mata saya berkaca-kaca. saya berjanji pada diri saya sendiri mulai hari ini dan seterusnya saya tidak akan pernah lagi mencubit ataupun bersuara keras kepada anak saya. saya sadar bahwa sebetulnya anak saya adalah seorang anak yang pandai, lucu, nurut, mengerti apa yang dikatakan orang dewasa. hanya saja saya kurang sabar untuk menghadapinya. ” adek bunda benar-benar minta maaf atas segala perlakuan buruk bunda pada adek, bunda sayang sekali sama adek”. Untuk pak Aries saya ucapkan banyak terima kasih.
October 17th, 2007 at 3:24 pm
Iya ya, kenapa orang tua kita bermuka dua seperti itu ya?
Mereka kalau di luar baik dengan orang lain, tapi kalau di dalam kasar terhadap anak?
Jaim, biar kalau di luar namanya bagus & harum?
Kalau di dalam, anak kan tidak mungkin berbicara ke orang lain bahwa orang tuanya tidak baik?
Betul-betul membingungkan.
October 23rd, 2007 at 1:01 pm
Kadang kita sebagai orang tua memang terlalu sibuk untuk berusaha mengerti dan memahami anak. Padahal sebenarnya yang diinginkan mereka juga sangat sederhana. Kita harus mulai berusaha membuka hati kita, melimpahi mereka dengan kasih sayang.
October 24th, 2007 at 7:19 am
Yaaa kadang sulit juga menahan emosi, ketika baru pulang bekerja, melihat dan mendengar anak tidak bisa diam, bercanda dengan berisik, menjatuhkan barang2…walah kondisi seperti ini kadang memancing emosi juga..
November 3rd, 2007 at 8:31 pm
Salut sekali!bisa menemukan puisi yg bisa memancing airmata saya.Sebagai orang tua,saya dan suami kadang juga melakukannya.Setelah membaca artikel ini saya jadi lebih menahan emosi.Sebenarnya saya sangant ingin mengikuti seminar anda,tapi kok mahal ya…..hi..hii…. saya berlangganan News letternya saja deh……Terimakasih Hypnoparenting
November 9th, 2007 at 7:33 pm
Tidak banyak yang dituntut anak dari orang tua. Hanya kasih dan cinta, sudah cukup bagi mereka. Justru kita yang terlalu banyak menuntut dari mereka. Dan jika mereka tidak dapat memenuhi tuntutan kita, mereka menjadi sasaran emosi orang tua yang tidak terkontrol. Sungguh tidak adil bagi anak. Setuju dengan Lily yang menyuarakan seminar hypnoparenting mahal. Apakah suatu saat bisa dibuat dengan harga yang lebih terjangkau ??? terimakasih hypnoparenting. I’m so proud of you.
November 10th, 2007 at 9:03 am
Saya jadi teringat kata2 ibu saya, “anak kita bukan pegawai kita, yg klo ada kesalahan kita bisa kasih mereka marah, skorsing or sangsi”
November 12th, 2007 at 1:43 pm
Puisi diatas mengingatkan saya pada masa kecil saya, dimana hal tsb terjadi pada saya, dimana papa saya memukul saya sampai saya SMA, terakhir kelas 2 SMA. Tapi kata-kata kasar terus berlanjut sampai saya menikah & meninggalkan rumah. Papa saya menjelaskan bahwa saya tdk perlu marah karena yang dilakukannya jauh lebih ringan daripada yg opa saya lakukan terhadapnya, yang dulu suka menghukumnya dengan pecut kuda sampai berdarah darah. Saya hanya ditempeleng, jadi jauh lebih ringan.
Sekarang saya sudah menikah dan memiliki anak, sayangnya saya juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama terhadap anak saya, walaupun sekali lagi intensitasnya jauh lebih ringan dari yang saya terima dari papa saya. Biasanya setelah memukul saya merasa sangat menyesal.
Saat ini saya sudah bisa mengendalikan diri untuk tidak memukul anak anak lagi - sudah sekitar 5 tahun berjalan (anak saya yang besar sudah 16 tahun. Tetapi masih sulit mengendalikan perkataan yang menyakitkan hati anak-anak (mereka protes ke istri saya). Saya ingin sekali bisa mengendalikan diri untuk bisa menjaga perkataan saya. Ada saran?
Salam,
November 19th, 2007 at 11:53 am
Tragis memang seperti kejadian yang tidak pernah saya lupakan 2 minggu biasa saya mengajak anak perempuan saya 2,6 thn untuk jalan main bola lantai dasaaar plaza semanggi seperti beli tiket lalu tiket tersebut di buat gelang. anak saya masuk utk bermain bola2 dan menunggu sambil membaca koran tiba2 ada teriakan kecil lalu tambah keras dgn reflek saya mencari anak saya … ternyata anak saya dipukul oleh anak2 laki umur sekitar 4-5 tahun saya sempet bengong dan melihat mata anak tersebut kosong ..yg sepertinya memukul itu adalah hal lumrah dimatanya. lalu saya teriak untuk mengusir anak tersebut dan anak saya nangis dgn keras nya didalam lorong plastik.
saya ambil anak saya sambil mencari ibu anak tersebut krn anak saya tambah menangis saya berusaha menenangkan dulu.
tidak berapa lama anak tersebut lewat didepan saya dgn ibunya lsg saya bentak ibunya..
ibunya memang memarahi anaknya tp yang saya liat didiri anak tersbut biasa aja tanpa ada rasa bersalah..
Maaf kalo curhat nya kebanyakan, ini kali pertama anak saya dipukul anak lain..
Saya sampai berpikir bgmn orangtuanya mendidik anak tersebut ? sampe timbul ide kalo ketemu lagi saya saran anak tersebut dikirim ke psikolog anak? saya kasian dgn anak tersebut? anak tidak mungkin salah, karena mereka hanya bisa merekam apa yang mereka lihat dan rasakan.
Insya allah jgn sampai anak saya seperti itu.. amin
wasalam,
November 20th, 2007 at 10:01 am
Membaca artikel ini, saya jadi ingat akan tindakan orang tua saya (alm) semasa saya masih kecil. Saya adalah anak terkecil dari 11 bersaudara. Alm. yang ex tentara selalu melakukan kekerasan thd kami anak-anaknya dan Ibu. Kebetulan, Istri saya juga punya Ayah yg pemukul, dan hal itu menurun ke kehidupan keluarga saya. Alhamdulillah, sejak 7 (tujuh) tahun lalu saya berhasil untuk tidak memukul anak dalam mendidiknya. Semua karena saya banyak belajar dlm mengendalikan diri. Meskipun, akhirnya yg terjadi adalah saya jadi banyak mengalah. Sayangnya, Istri saya saat ini kadang2 msh suka melakukan tindakan fisik, meskipun akhirnya dia menyesal ….
Rekan-Rekan, Tolong Do’akan kami bisa menjadi Orang Tua yang “Baik” ya …. Rgds.
November 21st, 2007 at 10:47 am
Beberapa bulan yang lalu saya menemukan buku Hypnoparenting di sebuah Toko, saya merasa tertarik untuk membeli dan membacanya. Setelah itu saya mencoba untuk sedikit bereksperimen dengan anak saya yang orang bilang ‘ajaib’, ‘nakal’, ‘bandel’ dll.. And Voila.. segalanya memang jauh lebih mudah jika dilakukan dengan cara yang ‘bijak’. Saat ini hubungan kami dengan si kecil menjadi jauh lebih baik, begitupun dengan perkembangannya.
Terima kasih Hypnoparenting.
November 22nd, 2007 at 12:44 pm
Banyak dari kita sebagai orang tua walau dewasa secara umur tetapi kurang dewasa dalam sikap, perasaan dan pikiran, and the most difficult one is, how we think like the children think! sehingga mudah dicerna anak.
Trima kasih pak info2nya yg tajam dan bijaksana!
November 27th, 2007 at 8:08 pm
Artikel ini mengingatkan diri saya untuk selalu melakukan instropeksi secara terus menerus.
December 22nd, 2007 at 1:21 pm
Yah,…sering kita sebagai orang tua tidak menyadari bahwa tindakan,sikap dan perkataan kita bisa melukai perasaan buah hati kita,…semoga untuk kedepannya kita bisa lebih mengontrol emosi di saat mereka bikin ulah,karena bagaimanapun juga bukan anak2 namanya kalau tidak pernah bikin ulah.Trims pak Aries atas kiriman artikel yang sangat menyentuh ini.
December 28th, 2007 at 11:35 am
Ya Allah, bimbinglah kami sebagai orang tua agar bisa mendidik anak dengan baik, Amiiiin.
January 7th, 2008 at 2:01 pm
Saya membaca artikel ini saya seolah merewind kembali tindakan saya terhadap anak saya selama ini. Banyak hal-hal yang dia lakukan salah dimata saya dan hingga membuat saya marah, sampai kadang kata kata negatif meskipun bukan makian, contohnya kalau kamu begini sulit untuk dibilangin lebih baik mami mati aja. Meskipun anak saya waktu itu tidak terlalu mengerti arti dari kata itu, tapi nada putus asa saya sudah terekam di benaknya, dia jadi cepat putus asa, pesimis bahwa untuk hal hal sulit dia bilang aku tidak bisa. Meskipun saya sudah kerap kali minta maaf, dan sudah memeluknya dan saya ajak dia bermain. Dalam beberapa hal dia sangat dekat dengan saya, misalnya kalau tidur selalu dia mau tidur sama saya, saya tau dia sangat suka saya peluk, dan saya doakan dengan tangan saya menempel di dadanya. Tetapi hingga saat ini saya masih terus belajar mengatasi emosi saya terhadapnya bila dia tidak mau menulis misalnya, atau mengarang. Saya kawatir dia tidak bisa mengikuti pelajarannya, karena yang saya lihat tulisannya jelek dan lama menulisnya serta pegang pensilnya belum benar (anak saya 8th laki-laki)saya merasa bersalah bahwa saya sebelumnya bekerja,sehingga saya tidak mempunyai waktu yang berkwalitas terhadap anak saya, saya seolah selalu dikejar waktu karena umurnya sudah 8th, Dari CD yang saya dengar mengenai menjadi orang tua yang profesional,yang bapak ceritakan, seolah masalah saya menjadi masalah yang sulit, karena anak saya sering saya lihat suka mengatakan saya tidak bisa. Terlebih bila dia melihat adiknya lebih bisa dia akan mengatakan ” Yah aku kalah lagi sama Evelyn” bagaimana kalau situasi sudah begini, tapi pikiran kita masih bisa positif menghadapinya. terima kasih
January 8th, 2008 at 5:14 pm
teruntuk semua orang yang dipercayakan oleh Tuhan untuk mendapatkan anak. bersyukurlah..
karena ngga’ semua orang bisa merasakan itu..
sesungguhnya anak - anak kita adalah anak yang tidak berdosa..
mereka juga tidak minta untuk dilahirkan..
bukankah mereka ada karena cinta kita..
tapi kenapa mereka disakiti.. dan diajarkan untuk membenci cinta..
pasti lambat laun jiwa mereka akan terganggu..
dan ga nutup kemungkinan bakalan ada dendam di hati mereka kelak setelah mereka merasakan jadi orang tua..
January 11th, 2008 at 4:29 pm
Pak Aries setelah buku hypnoparenting apakah sudah terbit lagi buku pak Aries yang lain,terutama tentang mendidik anak,saya tunggu ya.makasih