« Bahasa Cinta Anak: Kata-kata Pendukung | Home | Seminar Jakarta : Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar »
Inikah nasib semua Ibu Rumah Tangga ?
Oleh sukarto | July 12, 2007
Sumber Cerita : Aku Baik-Baik Saja - Buku Chicken Soup for the Parent’s Soul
Menjadi ibu adalah pengalaman paling penuh emosi dalam hidup seseorang. Seorang ibu menjadi anggota semacam mafia wanita - Janet Suzman
Rumah berantakan, piring-piring kotor.
Aku terlalu tua untuk ini, umurku tiga puluh lebih !
Mobil tidak bersih, rambutku kusut,
Dan aku sudah membelanjakan uang belanja minggu depan.
Pakaian kotor harus dicuci, anak-anak terlalu jorok,
Dan aku tak pernah punya waktu santai untuk berandai-andai.
Untuk semua pekerjaanku, waktuku tidak pernah cukup,
Pekerjaan tak pernah selesai, selalu ada yang belum beres.
Aku mengaca dan apa yang kulihat ?
Seorang wanita asing bertampang kusut, dimanakah diriku dulu yang cantik ?
Semakin bergegas aku, semakin ketinggalan aku.
Hari ini adalah esok, dan aku belum bisa mengejarnya.
Anak-anakku cepat menjadi besar,
Aku merindukan masa kanak-kanak mereka yang hilang demi adu cepat itu.
Aku bekerja dan membersihkan rumah dan memasak, dan aku berkata
“Belajar dan bersihkan kamar kalian !” tak ada waktu untuk bermain.
Yah, entah mengapa, Tuhan memilih AKU untuk mengasuh tiga anak-anakNYA ini ?
Aku hanya seorang manusia dan seorang ibu rumah tangga, tapi kenyataannya aku ini juga seorang sopir, koki, tukang kebun, guru, wasit dari pertengkaran anakku dan perawat yang pandai menyembuhkan luka.
Kadang-kadang, aku lupa bahwa jauh di dalam diriku,
Ada seorang wanita dengan bermacam-macam perasaan dan tadi malam,
wanita itu menangis.
Dia lelah, kesepian dan merasa tidak dihargai.
Dia ingin melihat bunga mekar dari biji yang ditanamnya.
Kemudian di tengah kekacauan dalam kecepatan y ang membingungkan,
Anak-anakku memandangku dan tepat ketika aku membutuhkannya,
mereka berkata “Ibu, aku sayang ibu” dan … aku merasa BAIK-BAIK SAJA !
Sukarto : seorang ibu seringkali merupakan super human di rumah karena begitu banyak yang harus dilakukannya, termasuk mengasuh tambahan satu anak lagi yang dipanggilnya suami. Seringkali sebagai seorang suami dan anak-anak, kita tidak menyadari bagaimana capeknya baik fisik maupun perasaan dari seorang ibu yang mengasuh anak-anak jaman sekarang yang penuh energi yang terus bergerak dan hanya diam setelah kehabisan energi yaitu tidur….zzzz…zzz Dan di masa-masa kedamaian seperti itu, seorang ibu yang juga ingin istirahat seringkali harus melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat anak-anaknya bangun, seperti membersihkan dan merapikan rumah. Dan tidak lama saat makhluk kecil itu berenergi penuh lagi, rumah yang baru saja bersih, jadi seperti tidak pernah dibersihkan agghh …
Marilah kita bersama-sama menghargai ibu atau mama kita yang telah menjalani proses yang luar biasa dalam membesarkan kita. Say : I Love You Mom …. Dan untuk para suami, hargai juga peran istri Anda yang telah bekerja keras tetapi mungkin tidak pernah cerita ke Anda karena dia tidak ingin menambah beban pikiran Anda. Say : I Love You …
Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !
Topics: Artikel |


July 17th, 2007 at 12:00 pm
Lelah, terabaikan, kehilangan jati diri, mungkin menjadi sebagian kisah dari wanita yang “hanya ibu rumah tangga” Tapi apakah itu benar adanya?
Kelelahan, perasaan terabaikan , jati diri yang hilang, semua akan sirna tatkala melihat wajah damai anak-anak dalam lelap tidurnya, sentuhan lembut suami di akhir hari….
Ya, hari ini wanita yang “hanya ibu rumah tangga” telah menyelesaikan tugas besar, mengurus rumah, anak-anak dan suami, bukankan itu suatu tugas yang mulia, jauh lebih pantas kalau “ibu rumah tangga” diganti menjadi “manager rumah tangga”
yang punya kekuatan, kepercayaan diri, dan jati diri yang jelas.
Salam hangat untuk semua Manager Rumah Tangga….
Bunda Rhania
July 20th, 2007 at 9:48 pm
wonder woman, super women or apa ajalah, apalagi kalo seorang wanita juga single parent, yang masih juga harus banting tulang mencari nafkah, menuntut ilmu di malam hari dan sebatang kara ketika sudah tidak ada lagi keluarga yang dititipi anak ketika pembantu pulang, bisa dibayangkan bagaimana kalang kabutnya, bagaimana harus bisa tetap mempertahankan prestasi anak di tengah minimnya waktu. tapi hidup memang harus diperjuangkan, so get your life woman!
July 26th, 2007 at 9:00 pm
I can speak out loud that I’m BLESSED. As a mom, I also have to work and do the domestic chores everyday. But that’s not a heavy burden anymore when I saw my kids with their innovative idea to surprise me. I have 2 great kids who love me dearly.
It does always amaze me to see their capacity to love and I’m very proud of them.
In so many ways, I must admit that I still have to LEARN a great deal more from them.
At the end of this note, I just want to say that I’m grateful being a mom!
August 17th, 2007 at 9:49 am
Terima kasih Bpk.Sukarto sudah mewakili perasaan seorang ibu. Memang tidak mudah menjalani kehidupan sebagai seorang ibu, karena beliau mempunyai tanggung jawab yang cukup besar. Baik didalam membuat rumah tangga yang hangat dan damai maupun dalam mendidik anak-anak untuk menjadi anak-anak yang baik, pintar dan bertanggung jawab. Dan hampir hari demi hari dilalui dengan setumpuk pekerjaan yang tidak pernah selesai. Salut bagi para ibu rumah tangga.
September 7th, 2007 at 9:45 pm
kadang2 seorang suami tidak mengerti bahwa seorang ibu rumahtangga sebenarnya juga bekerja hanya bedanya kalau ibu rumahtangga bekerja tidak menghasilkan uang sedangkan suami bekerja meghasilkan uang. semoga para suami bisa lebih mengerti istri mereka. beribu jempol untuk para ibu
September 28th, 2007 at 11:55 am
saya terkesan sekali, memang seharusnya sebagai seorang suami kita harus lebih mau meluangkan waktu sebentar untuk merenungkan segala kebaikan, dan hal2 positif yang telah dilakukan oleh sang istri. Jangan gara2 kerja, uang dan segala macam hutang membuat kita sebagai suami menjadikan istri sebagai tempat pelampiasan. Beliau juga butuh kasih sayang dan cinta.
Saya salut dengan dengan hypnoparenting yang berusaha merubah kehidupan para keluarga sehingga bisa berubah ke arah yang lebih positif dan bahagia. Semoga makin banyak keluarga yang tergugah dan mendapatkan kegembiraan. Amin!
October 3rd, 2007 at 12:57 pm
Untuk istriku tercinta,
Terima kasih buat waktu yg telah engkau berikan untuk kedua anak-anak kita.
Semua cinta ini akan tetap teringat sepanjang mereka ada dan tetap diceritakan ke keluarga mereka nanti, kelak saat mereka telah berkeluarga
November 2nd, 2007 at 2:56 pm
Terima kasih pak Sukamto yang telah mewakili para ibu diseluruh…
Ibu rumah tangga j\bukan berarti yang bekerja di rumah saja lho? banyak sekali wanita sekarang bekerja membanting tulang membantu suami demi kelancaran keuangan rumah tangga. bangun pagi subuh mengurusi suami dan anak-anak, menyiapkan sarapan pagi, mencuci, memasak dll. Setelah itu berangkat bekerja ke kantor, pulang bekerja masih harus membereskan pekerjaan yang tidak terselesaikan di pagi hari, mengajar anak-anak. seolah-olah istri harus bekerja tanpa henti. seperti pepatah seorang istri bekerja dari sebelum terbit matahari sampai mata suami terpejam. tapi melihat anak berprestasi….dan berhasil kelelahan lenyap,…lenyap. Hanya keiklasan yang menjadikan istri atau ibu rumah tangga tegar dan kuat.
Semoga para keluarga yang membaca dapat terinspirasi dan para suami tergugah untuk selalu mengharagi, menyangi keluarga.
Anti
November 10th, 2007 at 8:53 am
Perempuan adalah makhluk yang paling kuat yang diciptakan Tuhan. Sekalipun kaum ibu tak lagi terkungkung dalam rumah dan menunjukkan eksistensinya dalam dunia kerja, nuraninya yang paling dalam tak pernah berpaling dari anak dan keluarga. Mereka tetap menjadi bunga dalam keluarga, yang kehadirannya akan selalu dinanti oleh anak dan suami, untuk memberi kehangatan dan untuk menjadi bejana yang siap menampung segala perasaan marah, kecewa, kesedihan, ketidakpuasaan yang dialami anak dan suami di luar sana. Itulah mengapa, perempuan dianugerahi Tuhan airmata. Jadi, para suami, jangan remehkan airmata perempuan
November 15th, 2007 at 3:01 pm
Terimakasih. Isteriku, Widya, adalah isteri yang sempurna buat kami: Arum, Laras, Satya dan aku. Maafkan kami Mam, kalau sering mengecewakan. We love you! Marilah senantiasa berjuang menjadi sempurna.
November 22nd, 2007 at 6:46 am
Jgn pakai kata “HANYA” untuk ibu rumahtangga. Sebagian kita mkn blm sadar perannya dibalik kesuksesan yg ada. Bagi suami, anak-anak, sosial dan mungkin juga sebagian waktu mencari tambahan buat dapur ngebulnya seperti ibu saya, bisa saja dilakukan o/ yg namanya ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga sbnrnya wanita serba bisa, sampai-sampai bisa nangis saking stressnya dengan berlipat peranannya ! hwaaa…
December 9th, 2007 at 10:38 pm
IBU RUMAH TANGGA is a real survivor!!
January 16th, 2008 at 3:46 am
“YA ALLAH… BEGITU MULIA ENGKAU CIPTAKAN WANITA, YANG DAPAT MENJADI IBU DARI ANAK2 SEKALIGUS ISTRI DARI SUAMI DENGAN SEGALA TUGAS DAN TANGGUNG JAWABNYA”
Masya Allah…,saya menangis membaca artikel ini,teringat kembali bagaimana dulu almarhumah ibu saya yang seratus persen hidupnya di abdikan sebagai ibu rumah tangga mengurus dan mendidik anak2nya,mengurus suami dan rumah tangga hingga anak2nya tumbuh besar dan dapat hidup mandiri, kemudian bapak saya pergi untuk selama-lamanya dan akhirnya beliau pun menyusul 3 tahun kemudian.
Rasanya beliau berpulang setelah semua tugasnya sebagai istri dan ibu selesai.
Luar biasa pengorbanan seorang ibu dan istri bagi anak2,suami dan keluarganya.
Kini saya pun jadi semakin sadar dan menghargai betapa beratnya perjuangan istri saya menjadi ibu rumah tangga, terlebih lagi kini ia harus mengurus anak2 dan rumah tangga seorang diri sejak saya bekerja dan tinggal di luar negeri.
Jadi tidaklah salah jika di katakan bahwa WANITA ADALAH PILAR SUATU NEGARA.
I LOVE YOU IBU, I LOVE YOU ISTRIKU, semoga segala karunia Allah selalu bersama kalian dan hanya Allah lah yang dapat membalas segala jasa baik kalian terhadap hidup kami, Amien.
February 21st, 2008 at 3:20 pm
Yah…wanita yang selama ini selalu dianggap lemah, selalu harus dilindungi, selalu dipandang sebelah mata ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Memang terasa berat beban itu, memang terasa tak adil jika ingin berteriak tapi saya yakin jika semuanya ikhlas, pertolongan Allah akan datang, belum lagi balasan atas keikhlasannya. Salut buat seluruh ibu rumah tangga. Tetap semangat! juga salam untuk para single parent yang berjuang lebih dibanding yang lain. Doa seluruh muslimah menyertaimu:)
February 22nd, 2008 at 11:03 am
Bila kita hitung-hitung, berapa kilometer perjalanan sang ibu tiap hari di rumah ? Bolak balik dari dapur - cuci - km tidur - belanja - anak kencing - njemur pakaian - nyiapin makan - dst. Kalau niat itu dilakukan lillahi ta’ala, insya Allah itu termasuk salah satu jihad fi sabilillah. Memang terkadang pula muncul ucapan yang emosional yang tidak disadari. Namun itulah variasi hidup. Peran mulianya luar biasa. Suami kadang cuma marah-marah minta dilayani trima matengnya. Kemuliaan ibu 3 x bapak. Perasaannya 9 x perasaan bapak. Di telapak kakinya ada surga. Tapi kenapa di neraka banyak ibu-ibu ? Ibu yang mana ? Semoga bukan ibu-ibu kita dan bukan ibu pertiwi. Ibu jari kali. Wassalam.
March 12th, 2008 at 3:01 pm
…”Pakaian kotor harus dicuci, anak-anak terlalu jorok,
Dan aku tak pernah punya waktu santai untuk berandai-andai.
Untuk semua pekerjaanku, waktuku tidak pernah cukup,
Pekerjaan tak pernah selesai, selalu ada yang belum beres.
Aku mengaca dan apa yang kulihat ?
Seorang wanita asing bertampang kusut, dimanakah diriku dulu yang cantik ?
Semakin bergegas aku, semakin ketinggalan aku.
Hari ini adalah esok, dan aku belum bisa mengejarnya.”…
Apakah cerita diatas benar merupakan ungkapan jujur dari seorang ibu?Setelah saya membacanya, seolah mewakili seluruh rasa yang saya rasa selama ini. Saya ibu baru dengan bayi berusia 4 bulan. Melepaskan karir dan memilih tanpa bantuan orangtua,pembantu atau pengasuh saya menangani seluruh kegiatan dan peran saya sebagai istri dan ibu. Memastikan seluruhnya sesempurna mungkin bagi suami dan anak saya.
Namun,selama ini saya selalu mengira saya bukanlah ibu yang baik karena perasaan-perasaan seperti di atas itu kerap muncul dibenak saya. Atas segala perasaan saya itu, banyak yang bilang saya mengalami baby blues-lah, tidak siap jadi ibu-lah, egois-lah,harus menerima konsekuensi menjadi istri dan ibu tanpa harus punya pikiran seperti itu.
Mengapa tidak banyak saya mendengar seperti ungkapan perasaan diatas? Salahkah?Dosakah?
Menurut saya dengan mengungkapkan perasaan itu, saya hanya ingin jujur dan tidak terus menerus membohongi diri atau sekedar menghibur diri dengan, pikiran-pikiran, menjadi ibu dan istri adalah tugas mulia, atau..”semua akan sirna tatkala melihat wajah damai anak-anak dalam lelap tidurnya, sentuhan lembut suami di akhir hari..” .
Dan sekarang saya mengetahui, adalah hal yang manusiawi bila saya mengungkapkan pikiran diatas, tanpa harus merasa bersalah atau seolah saya tidak mencintai keluarga atau diri saya sebagai ibu dan juga istri.
March 15th, 2008 at 8:04 pm
membaca artikel tersebut serasa mewakili perasaan semua ibu rumah tangga, rencana-rencana seorang ibu yang terpaksa pending karena alasan anak dan keluarga, terkesan klise sepertinya, tapi kadang hal tersebut begitu membuat tertekan bagi seorang ibu yang ingin mengejar rencana-rencana tersebut, akan tetapi ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak-anak terurus, sehat dan perhatian suami, meski itu hanya ucapan “dik masakanmu enak..”melihat begitu lahapnya mereka makan. thanks for this article…
June 13th, 2008 at 9:08 pm
[…] Inikah nasib semua Ibu Rumah Tangga ? Oleh sukarto July 12, 2007 Sumber Cerita : Aku Baik-Baik Saja - Buku Chicken Soup for the Parent’s Soul Menjadi ibu adalah pengalaman paling penuh emosi dalam hidup seseorang. Seorang ibu menjadi anggota semacam mafia wanita - Janet Suzman Rumah berantakan, piring-piring kotor.Aku terlalu tua untuk ini, umurku tiga puluh lebih !Mobil tidak bersih, rambutku kusut,Dan aku sudah membelanjakan uang belanja minggu depan. Pakaian kotor harus dicuci, anak-anak terlalu jorok,Dan aku tak pernah punya waktu santai untuk berandai-andai.Untuk semua pekerjaanku, waktuku tidak pernah cukup,Pekerjaan tak pernah selesai, selalu ada yang belum beres. Aku mengaca dan apa yang kulihat ?Seorang wanita asing bertampang kusut, dimanakah diriku dulu yang cantik ?Semakin bergegas aku, semakin ketinggalan aku.Hari ini adalah esok, dan aku belum bisa mengejarnya. Anak-anakku cepat menjadi besar,Aku merindukan masa kanak-kanak mereka yang hilang demi adu cepat itu.Aku bekerja dan membersihkan rumah dan memasak, dan aku berkata“Belajar dan bersihkan kamar kalian !” tak ada waktu untuk bermain. Yah, entah mengapa, Tuhan memilih AKU untuk mengasuh tiga anak-anakNYA ini ?Aku hanya seorang manusia dan seorang ibu rumah tangga, tapi kenyataannya aku ini juga seorang sopir, koki, tukang kebun, guru, wasit dari pertengkaran anakku dan perawat yang pandai menyembuhkan luka. Kadang-kadang, aku lupa bahwa jauh di dalam diriku,Ada seorang wanita dengan bermacam-macam perasaan dan tadi malam,wanita itu menangis.Dia lelah, kesepian dan merasa tidak dihargai.Dia ingin melihat bunga mekar dari biji yang ditanamnya. Kemudian di tengah kekacauan dalam kecepatan y ang membingungkan,Anak-anakku memandangku dan tepat ketika aku membutuhkannya,mereka berkata “Ibu, aku sayang ibu” dan … aku merasa BAIK-BAIK SAJA ! […]