« Apa arti sesungguhnya FAMILY ? | Home | DVD502 - Tangki Cinta Anak »
Ada 3 Tipe Orangtua : Anda tipe yang mana ?
Oleh ariesandi | June 14, 2007
”Halo, selamat siang Pak. Saya Indri pembaca buku Hypnoparenting. Saya ingin minta waktu Bapak untuk konsultasi tentang masalah anak saya. Apakah Bapak ada waktu?”, demikian suara di seberang telepon. Setelah saya tanyakan apa masalahnya kemudian kami menyepakati jadwal bertemu.
Masalah Irwan, anak Ibu Indri, adalah masalah motivasi belajar. Irwan duduk di kelas dua sekolah dasar. Karena ”malas” belajar maka nilainya jelek dan akhirnya ia jadi minder di hadapan teman-temannya. Tidak berhenti sampai di situ saja. Ia sering berkelahi dengan temannya dan berselisih dengan guru dan orangtuanya. Ibu Indri sering dipanggil oleh guru Irwan dan sang guru sudah angkat tangan terhadap masalah tersebut.
Pada hari yang telah disepakati saya menemui Ibu Indri dan Irwan. Setelah ngobrol ringan beberapa saat saya mengetahui bahwa Ibu Indri dan suaminya adalah tipe orangtua ketiga. Orangtua tipe pertama adalah orangtua ”pencegah masalah”, orangtua tipe ini sering saya jumpai dalam seminar ataupun pelatihan intensif yang saya berikan. Orangtua tipe kedua adalah orangtua ”pencari solusi”. Mereka mencari solusi atas permasalahan anaknya. Tipe ini juga sering saya jumpai di seminar saya dan tak jarang berlanjut ke janji konsultasi dan terapi. Tipe ketiga adalah orangtua ”tahu beres”. Tipe ini hampir tidak pernah saya temui dalam seminar saya tetapi sering langsung datang ke ruang konsultasi dan terapi.
Orangtua tipe ketiga, seperti Ibu Indri dan suaminya, datang ke ruang terapi dengan harapan bahwa masalah anaknya langsung beres. Mereka berharap saya adalah makhluk ajaib yang langsung bisa menghipnosis anaknya untuk menuruti keinginannya.
Ketika mereka tahu bahwa proses perubahan anaknya menuntut proses perubahan diri mereka sendiri maka mereka jadi terheran-heran. Orangtua tipe ketiga sering tidak menyadari bahwa permasalahan anaknya bersumber dari pendekatan yang salah yang mereka lakukan sejak anak tersebut menjalani proses tumbuh kembangnya. Orangtua tipe ketiga sering menganggap bahwa anaklah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas masalahnya. Mereka benar-benar susah untuk menerima kenyataan bahwa merekalah pemicu utama dari tindakan anak-anaknya.
Mengapa bisa begitu? Karena pada awal mulanya anak-anak hanya merespon sikap dan tindakan orangtuanya. Ketika orangtua mengulangi sikap dan tindakannya maka si anak juga mengulang respon yang sama. Dan akhirnya karena sering diulang maka hal ini menjadi kebiasaan dan karakter si anak.
Setelah saya memberikan masukan pada Ibu Indri dan suaminya tentang masalah Irwan kemudian saya mulai membantu Irwan secara pribadi untuk mulai mengubah cara pandangnya. Pada dasarnya ia anak yang sangat baik dan cukup punya pengertian tentang berbagai masalahnya. Ia mulai menyadari bahwa kejengkelan terhadap orangtuanya yang sering menjadi pemicu dari sikapnya. Saya meyakinkan padanya bahwa papa mamanya akan mengubah pendekatan mereka padanya. Setelah itu kami berpisah.
Satu bulan kemudian Ibu Indri menelepon saya untuk minta waktu lagi. Ia mengatakan bahwa perubahan anaknya hanya terjadi dua minggu saja. Setelah itu sikapnya balik lagi seperti semula.
Singkat cerita kami bertemu kembali. Dan saya tahu apa yang harus saya katakan pertama kali untuk memeriksa kembali kasus ini. Pertanyaan saya pertama adalah seberapa konsisten ibu Indri dan suaminya menjalankan apa yang saya minta. Mereka langsung mengatakan bahwa mereka susah sekali untuk mengubah pola pendekatannya ke Irwan. Mereka sering kembali lagi ke pola lama mereka yang menggunakan bentakan, cemoohan dan perkataan yang merendahkan secara tidak langsung. Mereka sering mengambil jalan pintas.
”Lalu saya harus bagaimana lagi. Saya sudah jengkel dan tak sabar melihat sikapnya. Saya
”Kalau begitu siapa yang harus mengurusi Irwan yang masih sekecil itu?”, demikian saya ingin tahu jawabannya. ”Lha saya
”Hmmmm tapi bukan itu saja yang dibutuhkan Irwan. Mereka semua tidak bisa memenuhi tangki cinta Irwan. Hanya Ibu dan Bapak yang bisa melakukannya. Dan Irwan benar-benar mengharapkan hal itu dari Bapak dan Ibu tetapi ia jarang mendapatkannya. Kedekatan fisik Bapak Ibu tidak berarti kedekatan emosional. Masalah ini hanya bisa diselesaikan jika bapak Ibu berkomitmen pada diri sendiri untuk melakukan perubahan sehingga akhirnya Irwan akan meresponnya dengan cara berbeda pula. Bapak Ibulah yang menjadi terapis utama bagi Irwan bukan saya! Secanggih-canggihnya saya melakukan hipnoterapi pada Irwan tetapi jika Bapak Ibu di rumah, yang jelas lebih banyak berhubungan dengan Irwan, tidak mendukung tumbuhnya kebiasaan baru maka cepat atau lambat hasil terapi akan terkikis habis!” demikian saya menjelaskan.
Dari contoh kasus di atas jelas sekali bahwa peranan orangtua sebagai terapis bagi anaknya sendiri sangat besar. Orangtua adalah akar dari sebuah pohon yang akan menyerap segala nutrisi yang ada di sekitarnya dan kemudian menyalurkannya ke anak sebagai buah yang ada jauh di atas pohon. Untuk menghasilkan buah yang baik maka akarnya yang harus diperhatikan agar bisa menyalurkan nutrisi yang baik dan berguna bagi bakal buah yang akan berkembang. Ketika buah sudah sudah muncul maka perlakuan kita untuk mengubahnya hanya mempunyai pengaruh yang kecil atau bisa jadi terlambat.
Bagaimanakah dengan diri kita sendiri? Termasuk tipe orangtua manakah kita? Saya percaya artikel ini jatuh ke tangan orangtua tipe pertama dan kedua. Orangtua tipe ketiga yang tahu beres tidak akan mau repot membaca artikel ini. Bila Anda punya teman atau kerabat yang tipe ketiga, email atau beritahukan artikel ini pada mereka agar cepat sadar / tobat demi masa depan anak-anaknya. Salam hangat penuh cinta.
Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !
Topics: Artikel |


July 3rd, 2007 at 10:13 pm
uwwoow…yup…bener deh…aa ndak tau komentar apa, kita atau saya persisnya sbg ortu sring berharap anak2 bisa berlaku baik dengan sendirinya…haha…tinggal pencet tombol kalii.., hingga kadang tergagap kalau mreka bersikap tak sesuai menurut aturan saya. Padahal, bisa jadi mreka sering saya kecewakan tanpa saya (mau) menyadarinya…
Being parent is a way to to be better person..
remind me to keep learning ya Pak Aries.
July 4th, 2007 at 12:47 pm
Selamat siang P Aries & P Sukarto
Mau tanya nih. Bagaimana kalau anak telanjur mencap kita pemarah. Kalo ditiru kan gaswat…
Terima kasih
Agus
July 5th, 2007 at 10:44 am
Pak Agus yg ‘pemarah’
Kalau anak mencap kita sebagai pemarah, saya rasa justru bagus karena anak bisa memberi feedback, daripada dia diam-diam saja trus berperilaku buruk tanpa kita tahu penyebabnya.
Yang kita perlu lakukan adalah pertama introspeksi diri, apakah betul kita itu pemarah ? kenapa anak kita menganggap kita pemarah ?
Jika setelah introspeksi, kita merasa memang ada betulnya, cara paling mudah adalah memberi contoh suatu kesabaran saat biasanya pak agus marah dan memberitahu ke anaknya “Papa biasa kalau begini kan marah, tapi sekarang kan gak kan ? Karena papa ingin jadi lebih sabar dan lebih bisa kontrol diri karena papa ingin kamu juga bisa menjadi orang yg sabar dan punya kontrol diri”. Tidak semua orangtua berani berjanji seperti itu pada anaknya. Mengapa ? Karena orangtua kalau sudah berjanji seperti itu mau tidak mau jadi harus konsisten dengan perkataannya sendiri.
Konsistensi ini penting karena saat ini banyak anak tidak menghormati / respek dengan orangtuanya karena orangtua tidak konsisten dengan perkataannya sendiri.
Kita sebagai orang dewasa kalau dijanjikan sesuatu oleh orang lain tetapi akhirnya dia tidak menepati janjinya, kita percaya gak dengan orang tersebut ? Setelah 2-3 x kejadian, kita akan mencap orang tersebut tidak bisa dipegang janjinya dan cenderung kita tidak menghormatinya.
Sama dengan anak kita, saat kita bilang kita akan belajar menjadi lebih sabar dan lebih punya kontrol diri, dan dia benar-benar melihat buktinya, anak kita tidak saja akan juga belajar menjadi lebih sabar, tetapi yang juga akan terjadi adalah anak akan semakin respek dan menghormati orangtuanya. Karena dia tahu, ucapan orangtuanya bisa dipercaya.
Coba saja.. pasti manjur.
semoga membantu
July 6th, 2007 at 5:59 am
Dear P Agus yang baik,
Untuk membuktikan bahwa kita bukan pemarah memerlukan waktu. Biasanya lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk membuktikan kita pemarah.
Coba cek diri sendiri, kebanyakan orangtua marah pada anaknya karena orangtua merasa jengkel dengan diri sendiri. Anak hanyalah pemicu kemarahan itu.
Buktikan pada anak bahwa kita bukan pemarah dengan cara menanggapi setiap tindakannya dengan senyum yang disertai ketegasan menegakkan aturan dan tata tertib yang kita sepakati bersama anak.
Salam hangat
August 18th, 2007 at 7:34 am
Artikel yang sangat bagus. Memang hal tersulit adalah mengalahkan ego pribadi untuk tidak merasa memiliki hak absoute atas anak, sehingga tidak merasa mempunyai kekuasaan mutlak untuk memperlakukan anak menurut cara yang kita anggap paling benar