Home | Anak-anak yang Bingung »

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Oleh ariesandi | October 3, 2006

trainingkids3.jpgSeringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua ? Apa musti dipukul dulu baru nurut ? ” Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan ? “. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya :

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata,”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00 !!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya,”Kenapa kau terlambat ?” Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi ? Ya bisa saja ! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya ( baby sitter ). Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab” ? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab ? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap ?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi ?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan ! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

Ariesandi dan Sukarto

Topics: Artikel |

30 Responses to “Mendidik Anak Tanpa Kekerasan”

  1. feldi INDONESIA Says:
    January 17th, 2007 at 7:37 am

    “Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan ! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.”

    what can i say….??? keren abis

  2. Lenny Sia SINGAPORE Says:
    February 4th, 2007 at 6:43 pm

    Penjelasan yang sangat masuk akal. Saya setuju TOTAL !

  3. Didit INDONESIA Says:
    February 21st, 2007 at 10:23 am

    Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

    Semoga kita semua dapat menjadi penanam bibirt yg baik…

  4. Anies INDONESIA Says:
    July 28th, 2007 at 11:54 am

    Itu dia kuncinya.., padahal dulu waktu kita kecil banyak “what if” di kepala kita, ttg harapan perlakuan ortu pada kita. So…knapa stelah jadi ortu kita malah lupa “harapan2″ itu??

    Thanks to remind, Pak Ariesandi.

  5. Susanti Widjaja INDONESIA Says:
    September 10th, 2007 at 12:58 am

    Selamat malam Pak Ariesandi, artikel ini sangat membantu saya. Saya pernah memarahi anak saya yang pertama saat belajar, dan saya sangat kaget ketika tadi siang saya minta bantuan anak saya untuk membantu adiknya menyelesaikan PR mandarin, ia memarahi adiknya persis seperti yang saya lakukan terhadapnya dulu. Yang ingin saya tanyakan bagaimana cara agar anak saya tidak mencontoh apa yang pernah dulu saya lakukana Saya mohon jawabab dari bapak. terimakasih

  6. ariesandi INDONESIA Says:
    September 11th, 2007 at 12:14 am

    Dear Ibu Susanti
    Pertama kali Ibu perlu mengubah sikap Ibu dalam menangani anak. Jangan ulangi lagi cara seperti yang dulu. Setelah itu Ibu bisa lakukan nasihat pada anak Ibu agar mengubah sikapnya terhadap sang adik. Jadi yang paling penting adalah Ibu mencontohkan sikap yang baik terlebih dahulu pada anak setelah itu baru bisa berharap ia jadi baik. “It is better to build chhildren than repair adults, so be sure to build the best one”
    Kontrol diri dari Ibu sangat diperlukan dalam hal ini. Saya dengan istri pun mengalami hal yang sama. Jadi kami bertekad untuk saling mendukung satu sama lain, mengingat kita dibesarkan dengan cara-cara yang tidak tepat walaupun dengan maksud baik. Jadi sekarang kita lah yang harus mengubah diri kita lebih dahulu.
    Cara lain yang bisa Ibu lakukan untuk membantu anak berubah adalah dengan Hypno-sleep yang telah saya tulis detailnya di buku Hypnoparenting (bisa didapatkan di TB Gramedia).
    Jika Ibu ingin belajar lebih lanjut tentang cara mendidik anak yang sistematis Ibu bisa bergabung di Parents Club
    salam hangat dari team Hypnoparenting.
    ariesandi s.

  7. Susanti Widjaja INDONESIA Says:
    September 12th, 2007 at 8:19 am

    Terimakasih atas jawabannya.Saya juga baru bergabung di Parents Club setelah saya mengikuti seminar tgl 01 Sept di Jakarta.

  8. fatchul arif JAPAN Says:
    September 17th, 2007 at 2:56 pm

    ITS COOL…….

  9. Rinal INDONESIA Says:
    September 24th, 2007 at 10:29 am

    Terima kasih artikelnya pak Ariesandi. Memang sebagai orang tua kita harus sabar, kalau kita tidak sabar maka yang keluar dari mulut kita hanya bentakan2 kepada anak kita. Kita sebagai orang tua maunya yang terbaik dan cepat, lupa akan proses perkembangan anak.

  10. Indah McCarthy INDONESIA Says:
    October 6th, 2007 at 9:22 am

    Terima kasih banyak atas artikel yang sangat luar biasa, Pak Ariesandi dan Pak Sukarto.
    Ingin sekali rasanya saya menyebar luaskan artiel tsb kepada seluruh masyarakat Indonesia agar semua orang tua sadar akan bagaimana cara mendidik anak-anak dengan baik.

  11. Ina INDONESIA Says:
    October 31st, 2007 at 1:52 pm

    Arti kekerasan sebenarnya bukan hanya kekerasan fisik, tapi juga secara psikologis. Intinya adalah didik mereka dengan hati, jangan pernah menyakiti hati maupun jasmani mereka.

  12. Johanna INDONESIA Says:
    November 11th, 2007 at 9:32 am

    Terima kasih artikel mengenai mendidik anak. Terus terang saya adaproblem dalam mendidik anak.Kadang secara teori ingat bahwa dengan kekerasan tidak baik. Tapi susah pada prakteknya. Anak saya dilembutinjuga kadang tidak mempan. SAya masih perlu info mengenai mendidik anak untuk perbaikan relasi ibu dan anak Tks

  13. M.M - Karyawan Bank Swasta INDONESIA Says:
    November 14th, 2007 at 12:11 am

    Suami saya terlahir dg latar belakang keluarga ayahnya seorang tentara, pengalaman sang ayah mendidik ala militer terkenang sampai sekarang,
    beberapa hal positif diterapkan oleh suami saya ttng disiplin.

    Suatu hari dihari sabtu sore,ke-3 anak laki-laki saya mengikuti jadwal les renang,selesai dg pelatihnya mereka dapat bermain-main sesuka hati mereka. Suami merasa waktu bermain mereka sudah cukup lama dan mengajak untuk pulang,tetapi mereka menawar 10 menit lagi,dg bijak suami mengikuti
    keinginan anak-anak menunggu 10 menit lagi, selesai 10 menit mereka tidak juga beranjak untuk selesai,dg santai suami mengumpulkan pakaian renang mereka dan tanpa sepengetahuan anak-anak,suami saya pulang.

    Hati saya sempat cemas,dg apa mereka pulang dan bagaimana pakaian mereka nanti, karena anak saya yang terkecil berusia 6 tahun.(setelah mendapat penjelasan dari suami resiko terburuk dari keputusannya kecil,hati saya menjadi tenang) 15 menit setelah suami saya datang,anak-anak pulang dg ojek dan bertelanjang dada tanpa nada marah dan kesal suami mengatakan dg bijak dan sayang:

    apabila mereka tidak disiplin mereka tidak akan mendapatkan kesenangan tetapi sebaliknya yang mereka dapatkan penderitaan dan kesusahan

    Ternyata cara suami mendidik anak seperti itu berkesan untuk mereka,semenjak itu mereka belajar berkomitmen dg apa yang mereka katakan.

    Terimakasih HypnoParenting senang mendapat informasi tentang hal seperti ini.

  14. Liz INDONESIA Says:
    November 17th, 2007 at 6:58 pm

    Luar biasa! pendidikan melalui perbuatan lebih mudah diingat anak!

  15. andy INDONESIA Says:
    November 20th, 2007 at 11:47 am

    Baik sekali, akan saya coba terapkan dgn anak saya,
    Salam. Andy

  16. arif siaga INDONESIA Says:
    November 20th, 2007 at 7:28 pm

    Di sini saya memdapat pelajaran bahwa kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan oleh anak harusnya orang tua mengoreksi apa cara mendidik anak kita
    sudah benar,semoga saya bisa mendidik anak dengan
    ilmu pengetahuan dan tanpa kekerasan .

  17. felicita INDONESIA Says:
    December 4th, 2007 at 9:02 am

    Artikel ini akan selalu jadi bahan perenungan saya, thanks

  18. linda QATAR Says:
    December 9th, 2007 at 10:51 am

    Artikel yang sangat bagus,menyadarkan saya karena sering memarahi anak kalau ketika tidak mau makan dan tidur siang.mudah2an saya belum terlambat untuk memperbaikinya.

  19. rinAz INDONESIA Says:
    December 9th, 2007 at 7:30 pm

    I’m 100% agree with U!!
    STOP “Kekerasan”!!
    It won’t give U any good!!

  20. Astri INDONESIA Says:
    December 10th, 2007 at 2:26 pm

    Artikel seperti ini sangat saya butuhkan untuk menambah wawasan dalam mendidik anak saya, dan sebagai orangtua juga saya dituntut juga untuk belaja memahami & memperhatikan apa yang menjadi kebutuhkan anak saya.

  21. Paskalina INDONESIA Says:
    December 11th, 2007 at 11:31 am

    Pak Aries,
    Dari cerita diatas apakah si Anak tidak merasa “Gara-gara saya ayah jadi menderita” yang membuat anak merasa sangat bersalah dan menyalahkan diri sendiri yang berkelanjutan.
    Mohon jawabannya pak, terima kasih.

  22. Paskalina INDONESIA Says:
    December 17th, 2007 at 2:16 pm

    Pak Aries,
    Dari cerita diatas apakah si Anak tidak merasa “Gara-gara saya ayah jadi menderita” yang membuat anak merasa sangat bersalah dan menyalahkan diri sendiri yang berkelanjutan.
    Mohon jawabannya pak, terima kasih.

  23. WANTO INDONESIA Says:
    December 18th, 2007 at 11:46 am

    Begitu bijaksananya orang tua seperti itu, dia tidak menyalahkan si anak tapi dia menyalahkan diri nya sendiri yang tidak mengajarkan anaknya untuk berkata jujur. tanggapan saya bahwa si anah harus sering kita ajak diskusi dan atau sering kita menanyakan tentang kegiatan dia sehari-hari, ini bisa lebih mendekatkan kita sebagai orang tua kepada anak, anggap anak sebagai teman yang bisa diajak diskusi dan teman ngobrol. sehingga anak tidak canggung. banyak dari orang tua sekarang sibuk dengan karir tanpa memikirkan perkembangan si anak. alangkah berdosanya kita ketika anak kita sudah tidak lagi mendengar perkataan orang tua.
    yuk didik anak sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntunan agama !!!!!

  24. anna AUSTRALIA Says:
    December 19th, 2007 at 10:08 am

    Saya sangat berterimakasih atas kiriman artikel2 tentang mendidik anak. Saya masih sangat perlu saran-sarannya tentang mendidik anak tanpa kekerasan. Karena selama ini saya masih kurang bisa menahan diri untuk tidak membentak kepada anak pada saat mereka rewel terutama anak yang berusia 4 tahun. Saya selalu merasa sangat menyesal setelah melakukannya. Namun kadang2 anak usia 4 tahun menjadi sangat amat rewel pada saat2 kita hanya punya waktu yang amat terbatas untuk berlaku lembut, misalnya akan berangkat kerja, padahal kita juga harus melayani anak yang lain untuk berangkat sekolah. Bujukan yang bagaimanakah yang harus saya lakukan agar efisien dan efektif. Anak2 saya yang 4 tahun selalu ingin memonopoli perhatian saya pada saat saya didekatnya, tidak akan mengijinkan saya untuk melakukan hal lain. Hal ini yang sering memicu kemarahan saya. mohon sarannnya.

  25. ade AUSTRALIA Says:
    December 21st, 2007 at 8:02 am

    saya sangat setuju dgn artikel ini,tetapi saya mohon arahan bapak bagaimana cara mendidik anak saya(batita)yang tidak menggubris panggilan saya.Padahal saya dan suami tidak bosan-bosannya mengajarkan (menjawab bila dipanggil). Dan akhirnya saya jadi senewen sendiri(karena saya memanggil anak saya dengan nada yang lembut dan panggilan sayang hingga akhirnya kesabaran saya habis(kalo dihitung bisa 15 bahkan lebih panggilan))terimakasih sebelumny atas saran dari bapak.

  26. ariesandi INDONESIA Says:
    December 31st, 2007 at 8:58 am

    Dear paskalina,
    Apapun mungkin terjadi. Karena itu untuk bisa melakukan seperti itu diperlukan kesadaran diri dan wawasan yang luas untuk mempertimbangkan segala resiko di depan. Jika telah mantap barulah melakukannya. Itulah susahnya parenting. Tidak ada yang eksak / pasti untuk setiap kasus. Kita benar-benar perlu kebijaksanaan dalam menghadapi setiap peristiwa.
    salam hangat dari team sekolahorangtua.com

  27. ariesandi INDONESIA Says:
    January 4th, 2008 at 8:25 am

    dear ade,
    Coba kalau memanggil biasakan mendekat sambil memegang bahunya atau bahkan memegang dagunya dengan lembut untuk diarahkan ke arah anda.
    Salam hangat dari team sekolahorangtua.com

  28. ariesandi INDONESIA Says:
    January 4th, 2008 at 8:40 am

    dear Ibu anna,
    untuk memahami permasalahan tersebut kita harus mengetahui Tangki Cinta seorang anak dan cara mengisinya dengan bahasa cinta yang tepat. Jika tangki cinta seorang anak penuh maka ia akan bersikap baik dan mudah diajak kerjasama (diatur). SAtu kabar baik bagi Ibu bahwa materi tentang Tangki Cinta sudah bisa didapatkan DVD nya.
    salam hangat dari team sekolahorangtua.com

  29. Uly INDONESIA Says:
    January 18th, 2008 at 11:33 am

    Rasanya ingin bisa sesempurna sekilas cerita tsb, tapi kadang saya sulit sekali memahami apa yg anak saya inginkan (2 thaun)sehingga di menjadi marah2 dan saya ingin sekali bisa mendidiknya tanpa kekerasan….

    Apa yg harus saya lakukan????

  30. Ariesandi INDONESIA Says:
    January 23rd, 2008 at 8:42 am

    dear uly,
    jika Anda tanya “apa yang harus saya lakukan?” maka jawabannya bisa sangat panjang sekali dan berhari-hari.
    Mungkin langkah pertama yang bisa Anda tempuh adalah menyadari dulu posisi anda sekarang. Ini bisa dibantu dengan DVD Rahasia Menjadi Orangtua Efektif dan CD terapi untuk menetralisir muatan emosi negatif yang tersisa yang bisa anda dapatkan melalui web www.sekolahorangtua.com

    salam hangat dari team SekolahOrangtua