« Mendidik Anak Tanpa Kekerasan | Home | Apa itu HypnoParenting ? »
Anak-anak yang Bingung
Oleh ariesandi | October 4, 2006
Sadarkah Anda bahwa kita orang tua secara konstan meng-hypnosis anak kita ? Ambil saja kasus nyata yang terjadi dengan Anton yang merupakan anak di rumah tetangga ini.
Pada suatu hari Anton sedang bermain dengan adiknya dan tiba-tiba saja si adik menangis dengan keras karena mainannya direbut. Anton tidak mau mengalah dan malahan mengejek adiknya. Ibunya melihat hal itu terjadi dan dengan serta merta berteriak dengan suara nyaring nan merdu, “ Ayooo……, teruskan……. ya ganggu adikmu terus. Nanti Mama hukum kamu kalau terus ganggu adikmu. Kan adikmu masih kecil kamu yang lebih tua ngalah dong ? “
Anton terdiam kebingungan, dalam hatinya ia berkata, “ lho tadi katanya disuruh terus, lha kok kalau saya teruskan malah dihukum dan kapan adik akan jadi lebih tua daripada kakak ya ?”
Anton mempunyai pikiran seperti itu karena telah sering mendengar ucapan ibunya yang seperti tadi. Setiap kali ia dan adiknya berebut mainan selalu saja adiknya akan menangis untuk menarik perhatian ibunya. Dan anehnya ibunya selalu mengatakan hal yang sama seperti di atas kepadanya.
Sejak saat itu Anton selalu mencari makna atas perkataan orangtuanya. Ia sering bingung sendiri, tanpa disadari tentunya, apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Jika ia sendirian seringkali memorinya memunculkan perkataan-perkataan orangtuanya dan orang dewasa di sekitarnya yang membuat ia bingung.
Tanpa disadari ia tumbuh dengan sikap penuh keraguan dan susah mengambil keputusan dalam waktu cepat. Ia menjadi tidak berani memutuskan sesuatu dan lambat laun inisiatifnya untuk memulai sesuatu semakin menurun. Cepat atau lambat kita bisa meramalkan apa yang akan terjadi pada diri anak yang sering harus mencari makna atas setiap tindakan atau perlakuan dari orang di sekitarnya. Mereka akan tumbuh dengan sikap penuh keraguan dalam bertindak, takut dikritik, perfeksionis, tidak berani mengambil keputusan besar, kurang berinisiatif dan tergantung pada orang lain.
Atau mungkin anda pernah mendapati seorang anak yang ulangannya jelek dan kemudian mamanya berkata dengan kecewa, ”Aduh kamu ini, kemarin kan sudah belajar dan katamu kamu mengerti, lah kok sekarang dapatnya cuma segini? Aduh kamu ini, harus diapakan sih ? Mama dulu ya tidak pernah dapat nilai sejelek ini lho ! Mama selalu dapat nilai bagus !”
Dan papa si anak yang mendengarkan juga omelan istrinya agak sedikit tersinggung dan mengatakan ” Heh, Mama menyindir Papa ya ! Mau mencari kambing hitam ya ? Apa maksudnya Mama mengatakan nilai Mama selalu bagus apa nyindir Papa ? Catat ya nilai Papa dulu juga selalu bagus bahkan selalu masuk dalam 10 besar di kelas ! ”
Dan ………….. bingunglah si anak. Dalam pikiran bawah sadarnya muncul suara kecil yang mengatakan, ” Mama nilainya selalu bagus, Papa juga selalu bagus bahkan masuk dalam 10 besar di kelas ? Kalau begitu kenapa aku jadi bodoh begini ya ? Aku ini anak siapa sih sebenarnya ? Kok gara-gara nilaiku mereka jadi bertengkar sendiri sih? Apa salahku ?” Dan beribu-ribu pertanyaan lain yang akan muncul di benak si anak.
Sampai di sini anda mungkin berpikir, ”Wah susah sekali menjadi orangtua. Kok ini salah dan itu salah ya. Saya dulu juga diperlakukan seperti itu oleh orangtua saya. Tapi kok ya …. tidak apa-apa tuh ? Sekarang hidup saya juga sukses ?!”
Oh yaaaa…….. Pernahkah anda merenung dan menggali dalam diri anda apakah ada konflik-konflik kecil yang timbul yang anda abaikan saja karena tidak tahu jawabannya. Dan anda mengabaikan karena anda melihat sepintas tidak ada pengaruh besar bagi kehidupan anda. Sesekali saja muncul tapiiii …. ya tidak perlu diungkit lagi ah.
Anda benar. Anda bisa sukses dengan apa yang orangtua anda telah lakukan pada anda. Dan tahukah anda seandainya orangtua kita melakukan sesuatu yang lebih positif lagi dari apa yang telah dilakukannya maka kita bisa jadi lebih sukses daripada sekarang. Bukankah setiap akibat merupakan hasil dari suatu sebab. Dan jika sebabnya berbeda maka akibatnya berbeda juga, betul kan ?
Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan kepada anak-anak kita. Jika perkataan dan perbuatan itu sering diulang maka pikiran bawah sadar anak akan menangkapnya dan menyimpannya sebagai fakta kebenaran. Apapun faktanya, positif ataupun negatif, akan dianggap sebagai kebenaran dan diwujudkan dalam realita fisik si anak. Itulah yang disebut hypnosis. Kita sadari atau tidak, kita telah menghypnosis anak-anak dengan perkataan dan perbuatan kita. Kita telah menghypnosis anak-anak kita dengan lakon sehari-hari yang kita pentaskan sebagai drama kehidupan di depan mata mereka.
Jadi apa yang harus kita lakukan ? Berikut ini adalah beberapa tips agar anak-anak tumbuh dengan baik :
- Katakan apa yang anda inginkan terjadi, jangan membuat anak mencari-cari sendiri makna dari ucapan atau tindakan anda. Janganlah terlalu suka memelototi anak dan berharap mereka akan mengerti apa maksud anda, mereka akan mencari makna dan akhirnya tumbuh dengan sikap penuh keraguan dan takut berbuat salah. Jika anda ingin dia menghentikan tindakannya langsung katakan, ”Sudah cukup. Hentikan sekarang. Sebenarnya apa yang kamu inginkan? ”
- Akui dan hargailah perasaan mereka. ”Kamu lagi jengkel ya, sedih ya, atau kecewa? Kamu jengkel karena ………………. (mainanmu direbut oleh adik ya, atau Mama / Papa membentak kamu ya , atau apapun penyebabnya ). Yaa ……. Mama / Papa mengerti dan bisa merasakan hal itu. Mama / Papa sendiri juga akan jengkel atau marah jika diperlakukan seperti itu. Menurut kamu apa yang bisa dilakukan agar perasaan jengkelmu hilang ? Apa kamu mau minum dulu ? Atau melakukan ……….
- Bersikaplah konsisten. Tindakan dan ucapan kita harus selaras. Selain itu kita sebagai pasangan juga harus konsisten dan sepakat dengan berbagai aturan. Jangan sampai kita mengijinkan hal tertentu tetapi pasangan kita mengijinkannya atau sebaliknya. Jika hal itu sering terjadi maka si anak juga akan mencari sendiri kebenaran makna dari ucapan atau tindakan itu.
Semoga anda mengerti bahwa kita orangtua senantiasa menghypnosis anak kita, pastikan kita menghypnosis mereka dengan hal-hal yang benar.
Wish you become the best parents in the world !
Ariesandi dan Sukarto
Topics: Artikel |


April 1st, 2007 at 2:50 am
Saya setuju bahwa para orangtua menyatakan keinginannya pada anak secara to the point. Namun kadang anak seolah-olah tidak mau mengerti. contoh bila anak melihat tv terlalu dekat - sudah saya katakan kalau anak harus duduk di sofa (yg jauh) namun anak hanya melihat sofa sebentar lalu tetap saja berdiri dekat tv. Anak baru bergeser ke sofa setelah saya “halau” untuk ke sofa. Bagaimana dg kondisi di atas ?
Terima kasih.
April 1st, 2007 at 6:06 am
Yang terjadi pada kondisi ini adalah anak yg sudah terkondisi dgn cara lama. Sekarang yg harus dilakukan adalh melakukan re edukasi pikiran bawah sadarnya dgn inputan baru. Tipsnya adlh dgn memberikan sugesti berulang2 dan memberikan kepercayaan kita pada anak, “papa percaya makin hari kamu nontonnya makin jauh” Sugesti ini diberikan terus dan tiap kali ia makin jauh berikan pujian dan penguatan “nah bagus kamu harus bangga dg dirimu krn mampu mengontrol diri kamu utk menonton makin jauh”.
Jgn harapkan sugesti langsung dituruti pada kesempatan pertama. ingat kita perlu me re-edukasi bawah sadar dan ini perlu waktu mengingat sdh ada program bercokol di sana.
Saya ada menjelaskan lebih detil tentang teknik dan alasannya di Hypnoparenting Club yang merupakan suatu program pelatihan menjadi orangtua profesional yg materinya kami kirimkan tiap bulan ke rumah shg bisa dipelajari bersama pasangan dan dapat diulangi terserah kita.
Semoga bermanfaat…
April 14th, 2007 at 6:51 pm
Setelah sedikit membaca buku ‘Hypnoparenting’ memang jadi merasa saya harus banyak belajar untuk menjadi orang tua yang tidak membingungkan anak, ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk toipik kali ini saya ingat pengalaman yang sekarang sudah mulai bisa saya ubah. Saya ingin anak saya mulai bisa memutuskan sesuatu paling tidak untuk hal-hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri seperti memilih baju. Saya mendorong dia melakukan hal itu, tapi setelah memilih dan kembali meminta pertimbangan saya, kebanyakan saya tidak setuju dengan pilihannya. Beberapa waktu, terlihat bahwa akhirnya dia tetap saja tidak punya percaya diri untuk memilih baju sendiri. Akhirnya saya berfikir untuk menanyakan balik bagaimana pendapat dia, kenapa dia berfikir seperti itu dan kalau saya ingin dia memakai baju yang lain saya tidak mengatakan langsung bahwa pilihannya tidak cocok, tetapi saya perhalus dengan “Kalau yang ini kelihatannya lebih matching, menurut kamu?” Dia sepertinya senang dan merasa lebih dihargai. Pak Aries dan Pak Sukarto, kira-kira ada hal yang lain yang perlu saya kembangkan lagi? Terima kasih…
April 14th, 2007 at 6:54 pm
Yang saya tahu anak-anaknya span nya memang pendek, jadi perlu sedikit “cerewet” untuk mengulang-ulang hal yang harus dikerjakan. Tinggal gimana caranya supaya anak tidak merasa tertekan dengan kebawelan orang tua yang terus mengingatkan…
April 15th, 2007 at 1:44 am
Yang terhormat Ibu Yanti,
yang ibu lakukan sudah benar. intinya tingkatkan kesadaran diri sehingga kita peka dengan kebutuhan anak terutama kebutuhan emosinya.
Ingatlah bahwa setiap manusia butuh penghargaan dan penerimaan dari orang lain apalagi anak-anak. Bagi anak-anak penghargaan dan penerimaan dari orantuanya adalah harta tak ternilai harganya bagi perkembangan sikap mentalnya kelak ketika dewasa.
Kami memang kebetulan membahas hal ini lebih detail dalam seminar tangki cinta anak di seminar surabaya 21 April dan di materi pelatihan ke anggota hypnoparenting club.
May 5th, 2007 at 6:39 am
Saya punya anak kembar baru berusia 2 tahun, semua laki-laki. Mereka kembar tidak identik. Kadang-kadang mereka suka mainan yang sama pada saat yang sama, Walaupun saya selalu membelikan 2 buah mainan, kadang-kadang mereka suka mainan yang dipegang oleh saudaranya. Sehingga mereka berebut dan salah satu pasti menangis. Gimana sebaiknya saya berperan dalam hal ini? Terima kasih.
May 19th, 2007 at 3:50 pm
saya mempunyai anak yang berumur 4 tahun , kelahiran beliau normal normal dan tak lupa istri sayapum beli buku tip-2 untuk mencerdasarkan anak sejak dalam kandungan , akan tetapi begitu lahir dan besar anak saya mengalami gannguan berupa sulit tidur dan setelah umur 3 tahun di akayaknya mengalami traumatik dan tidak percaya diri , bahkan sekolahpun harus di tunggui oleh ibunya kurang lebih 6 bulan , semua harus sama ibu , tak lupa kalu mau tidur ia selalu minta dongeng , menurut para ahli psikologi anak dongeng adalah obat mujarab untuk merubah pola laku anak.
yang saya tanyakan gimana cara menangani anak tersebut
August 14th, 2007 at 4:24 am
to bpk ariesandi yang terhormat.
ada yang ingin saya tanyakan semenjak anak saya lahir istri saya tetap bekerja tapi walaupun istri saya bekerja istri saya tetap menyusui sampai umur anak saya 2 th dan sekarang umur anak saya 2.5th ,selama istri saya bekerja anak kami bersama dengan orangtua istri ,selama ini saya tidak terlalu banyak
memberikan nasihat2 ,saya takut kalau memberikan nasihat takut anak saya nanti bingung mau nurutin nasihat siapa orangtua saya atau saya.kalau saya bilang jangan sama anak saya orangtua saya bilang udah ga apa apa anak jangan terlalu dilarang nanti ga percaya diri, maklumlah sementara ini saya masih tinggal sama orangtua rencana saya nanti kalau anak saya sudah masuk usia sekolah baru nanti saya tempati rumah sendiri. saya menikah umur 25th istri saya umur 20th ,nah untuk keadaan seperti ini menurut bpk saya harus bagaimana terhadap anak saya. pertanyaan seperti ini mungkin sudah lama saya ingin tanyakan dengan adanya hypnoparenting saya merasa bertanya dengan orang yang tepat.terima kasih banyak untuk bpk ariesandi dan sukarto
salam sukses
August 17th, 2007 at 6:52 pm
dear Novi Damaryanto,
Mengingat kondisi Bapak yang harus berkumpul sama orangtua maka jelaslah ini membutuhkan kerjasama yang konsisten diantara pihak yang terlibat untuk mendidik anak tersebut. Apa akibatnya jika tidak konsisten? Bisa jadi Bapak kehilangan otoritas di hadapan anak. Untuk jangka panjang hal ini bisa jadi sumber masalah. Sebaiknya secara baik-baik Bapak komunikasi dengan orangtua tentang sikap Bapak dan mintalah ijin mendidik anak Bapak sendiri. Hal ini bisa jadi sangat sensitif, oleh karena itu berhati-hatilah dalam mengkomunikasikannya. Bagaimanapun ketegasan Bapak di mata anak sangatlah diperlukan.
Salam hangat selalu.
September 3rd, 2007 at 8:22 am
Intinya, Komunikasi yang efektif. Hindari Model Komunikasi yang emnyimpang. Hargai anak sebagai individu yang memiliki pikiran dan keputusan untuk dirinya sendiri. Orang tua fasilitator yang menyenagkan bagi anak….setuju Pak Ariesandi.
September 4th, 2007 at 4:41 pm
Setelah mendengar banyak komentar dari bapak dan ibu.Saya hanya menambahkan bahwa,yg harus dibenahi dulu pola mendidik,pola pikir dan pola mengasuh orang tua.
Saya merasa”cocok”dengan metode hypnoparenting ini,yg akan sy terapkan kpd putra kami yg berumur4,5tahun.
Selama ini sy mengasuh anak sy seperti cara mengasuh orangtua sy dulu.Yg penuh dng teriakan,cubitan dan kata2 yg buruk.Padahal sy sadar,kl mendidik seperti itu tidak ada gunanya.
Tapi sy lebih mementingkan emosi sy,dan papanya sendiri mengatakan,kita ngk perlu baca buku ini atau buku itu,kita membesarkan anak seperti apa adanya kita saja dengan hati nurani.Kalau benar bilang benar dan kalau salah bilang salah.Kedengarannya seperti kurang mendukung keinginan sy yg mau belajar hypnoparenting.
Dengan mengikuti parents club,apakah sy bisa merubah sikap2 buruk sy,dlm mengasuh anak,yg rasanya sudah mendarah daging dan susah dihilangkan?Dan bagaimana mengajak suami,untuk ikut berperan serta dlm hal ini?
Mohon penjelasannya ya Pak Ariesandi.
Yah tentu saja dengan tekad yg kuat
September 5th, 2007 at 1:56 pm
Ibu Nesia yang baik,
Dengan mengikuti Parents club maka ibu akan banyak terbantu, karena selama ini belum pernah ada sekolah untuk mendidik orangtua dalam mengasuh anaknya. Jika menggunakan hati nurani sebenarnya sih oke aja. Tapi harus yakin bahwa hati nuraninya tidak dipengaruhi dengan emosi negatif. Jika sudah dipengaruhi emosi negatif maka hati nurani pun tak akan didengar. Untuk meredakan emosi Ibu bisa membeli CD Terapi Hipnosis. Dalam CD tersebut Ibu akan menemukan bimbingan untuk menurunkan kadar emosional Ibu yang bisa jadi berakar dari masa kecil Ibu sendiri. Setelah itu Ibu bisa mendapatkan banyak ide dan pengetahuan dari keanggotaan materi membership.
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah “seandainya kita dulu dididik dan diperlakukan dengan lebih baik oleh orangtua kita maka kita sekarang pasti mencapai lebih banyak dari yang sekarang sudah kita dapatkan”
Salam hangat dari hypnoparenting team
September 10th, 2007 at 3:37 pm
memang kita sebagai orangtua harus hati2 didalam membangun komunikasi dgn anak, dengan adanya hypno parent ini mungkin bs membantu para ortu untuk lebih mengetahui cara membangun komunikasi yg baik dgn para Anak-Anak, makasih ya bpk Ariesandi, hr ini sy mendapat point yg sangat berharga.
September 11th, 2007 at 11:36 am
Terima kasih hypno parent atas artikel yg selalu dikirim ke email saya. Komunikasi dengan anak memang sangat perlu, karena hal itu membuat anak merasa diperhatikan dengan orangtuanya. terkadang komunikasi butuh juga dengan bahasa tubuh, dan komunikasi itu juga butuh kontak mata.
September 13th, 2007 at 8:40 am
Saya sungguh sedih karena ternyata say selama ini telah melakukan hal yang salah,sering kali saya membentak anak saya karena kenakalannya,bahkan sering kali aku mengancamnya akan ku potong tangannya agar anakku jera dan tidak melakukan hal hal yang nakal dengan membaca artikel ini saya jadi bingung apa yang harus saya lakukan sekarang untuk memperbaiki keadaan ini ???
September 24th, 2007 at 7:07 pm
Setelah membaca saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah salah dlm menyikapi anak saya yg mempunyai sikap dan kelakuan yag sama dgn anton. Terima kasih atas emailnya hal ini akan semakin cerdas dlm menyikapi anak .
October 8th, 2007 at 1:07 pm
anak adalah sebuah masa depan, mendidik anak memang gampang2 susah.. tapi dengan pengertian dan pemahaman yang benar, sebagai orang tua adalah sebuah seni dalam perjalanan keluarga yang harmonis..
saya sangat terkesan atas semua artikel yang dikirimkan…
terima kasih hypno parent
October 10th, 2007 at 10:51 am
saya juga pernah mengalami pertengkaran anak saya, anak saya usia 6 thn dan 3 tahun, jika sedang bertengkar diikuti tindakan kekerasan dengan menarik rambut kakaknya tau menendang dengan kaki, biasanya saya hanya memisahkan dengan menggendong anak yang kecil untuk memisahkan keduanya, bgm mana saya harus bereaksi terhadap permasalahan tersebut
November 13th, 2007 at 5:32 pm
sebagai orang tua , saya baru menyadari setelah membaca artikel ini bahwa membimbing anak memerlukan
pengetahuan kusus supaya tidak membawa dampak yang kurang baik terhadap perkembangan anak.Harapan saya dengan sering membaca artikel artikel ini dapat membantu saya membimbing anak ke arah yang lebih baik.
November 14th, 2007 at 5:50 pm
terima kasih,dengan banyak membaca di web ini saya lebih terbuka dalam mendidik anak2 saya….saya harap ini jadi teladan bagi kita semua…
November 30th, 2007 at 6:38 pm
ketika kecil, saya pernah jatuh hingga kaki saya terluka. ketika saya jatuh itu my grandma said “pinter, gapapa sayang, calon dokter”
wah, kata-kata itu selalu jadi penyemangat untuk saya hingga hari ini
December 27th, 2007 at 11:10 am
selama ini yang kami lakukan dalam mendidik anak2 kami seperti contoh2 diatas yang keliru dan hasil juga benar mereka gampang sekali menolak permintaan2 kami dengan berbagai ekpresi dan kata2 yang kami sendiri tidak mengajarkannya. Dan hal ini sering memancing kemarahan kami dan akhirnya berulang dan membentuk siklus. Sering pula saya sangat menyesal memperlakukan mereka dengan tidak semestinya.
Bagaimana menurut Pak Aries supaya bisa memutus siklus itu.
January 4th, 2008 at 8:25 am
dear p lukman
saya ingin menjawab dengan detail permasalahan BApak namun sepertinya tidak memungkinkan. Ini adalah tipe pertanyaan yang singkat namun jawaabnya harus berhari-hari. Untuk bisa memutus siklus tersebut BApak harus mengetahui mekanisme pikiran, konsep komunikasi yang tepat sesuai dengan tipe kepribadian anak dan diri kita sendiri, membangun ekpektasi positif, serta mengerti bagaimana cara melakukan re-edukasi pada diri si anak yang sudah terlanjur memiliki “database” negatif.
Saya sarankan Bapak menjadi anggota Parents Club.
salam hangat dari team sekolahorangtua.com